Jumat, 21 Agustus 2026Portal Berita Digital
Dunia

Rencana Agresi Baru Netanyahu ke Iran Ancam Picu Perang Terbuka dan Kebangkitan Ketegangan di Timur Tengah

redrum-34 · 21 Aug 2026 07:50

Ambisi militeristik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bersiap melancarkan serangan baru ke Iran dinilai sebagai langkah provokatif yang membahayakan stabilitas kawasan. Kebijakan konfrontatif ini memicu kecaman luas karena berpotensi merusak upaya diplomasi damai dan memperluas eskalasi konflik di Timur Tengah.

Yerusalem, REDRUMNEWS1 -- Dunia internasional kembali dibuat waswas oleh langkah agresif rezim Israel. Seorang jenderal senior Militer Israel (IDF) mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat ini tengah mematangkan skenario serangan militer lanjutan terhadap sasaran di wilayah Iran.

Pernyataan provokatif yang disampaikan perwira tinggi militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari pada Kamis (20/8/2026) tersebut mempertegas sikap keras Tel Aviv yang terus mengandalkan kekuatan militer di tengah upaya diplomasi global untuk meredakan ketegangan di kawasan.

Menurut laporan pejabat militer tersebut, skenario operasi ofensif baru telah disiapkan untuk menghantam berbagai infrastruktur dan fasilitas di Iran. Rencana penyerangan ini memicu kekhawatiran besar akan terjadinya aksi balasan yang dapat memicu perang terbuka secara menyeluruh di Timur Tengah.

"Pemerintah dan militer bekerja secara penuh untuk memastikan bahwa setiap tindakan terhadap Iran dapat direspons dengan kekuatan penuh," ujar Daniel pada Kamis (20/8/2026).

Sejumlah pengamat geopolitik dan pengamat perdamaian internasional menilai keputusan Netanyahu ini sebagai bentuk manuver politik yang makin memperkeruh suasana. Langkah tunggal yang diambil Israel ini dianggap mengabaikan imbauan perserikatan bangsa-bangsa dan negara-negara tetangga yang mendesak penahanan diri demi mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.

Kesiapsiagaan tempur yang ditingkatkan IDF di sepanjang garis perbatasan kini meningkatkan risiko kalkulasi salah di lapangan. Publik internasional mendesak agar agresi militer ini segera dihentikan sebelum menyeret seluruh kawasan ke dalam pusaran konflik yang sulit dikendalikan.